Senin, Juli 14, 2008

Fatimah Az Zahra

Diposting oleh Soraya di 7/14/2008 02:43:00 PM 0 comment
hm..curhat dikit boleh kan?! Cerita waktu hari sabtu aj deh..

waktu dateng ke skul, w banyak ngobrol ma Djali, um..obrolannya seputar majelis Rasulullah yg bysa dy ikutin tiap malem minggu, tempatnya insidentil, habib hasan yang pimpin ( klo g salah ). ada cewenya juga, dy ngajakin w, tp..w blom yakin ah..secara pergi ngaji malem2, malem minggu pula ( bysa di rumah anteng depan tipi ), n sebelum ngaji pake ada acara konvoi segala, um..makin g tertaut hati w ( ha3..laga'nya )

ok deh, akhirnya kita ngobrol banyak hal, yg paling nyangkut sih obrolan mengenai fatimah, trus sengaja browse n taro di blog supaya pada tau keturunan Nabi itu asalnya dari sapa, jangan kaya w yg baru ngeh sekarang ( dari dulu kmna aj neng T_T.. )

Ada kaitannya sama surat Al Kautsar , jadi bentar kita kaji sedikit mengenai Al Kautsar yawh!

******

Membedah Tafsir Surah al Kautsar

FATIMAH: ANUGERAH SPEKTAKULER ILAHI BAGI NABI SAW

Apa arti kata al kautsar? Bagaimana asbabul nuzul surat al kautsar? Bagaimana pemahaman ulama mengenai kata al kautsar ini?

Al kautsar berarti kebajikan yang banyak. Kata alkautsar berasal dari kata katsiir yang digunakan untuk menunjukkan pada sesuatu yang kuantitas atau kualitas tinggi. Kata al kautsar hanya disebut sekali dalam al Qur’an, yaitu dalam surat Al Kautsar/108:1. Al kautsar sekaligus menjadi nama dari surat yang ke 108 ini, namun ada juga yang memberi nama surat ini dengan surat an Nahr.

Terdapat beragam riwayat yang menceritakan tentang asbabaun nuzulnya surat ini, salah satu diantaranya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as Suddi. Ketika putera Rasulullah saw (Al Qasim) meninggal, al ’Ashi bin Wail berkata bahwa Muhammad telah terputus keturunannya, maka turunlah surat al Kautsar/108: 3 (Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah orang yang terputus).

Riwayat yang senada dikatakan bahwa ’Uqbah bin Abi Mua’ith berkata,’Tidak seorang anak laki-lakipun yang hidup bagi nabi saw, sehingga keturunannya terputus’. Ayat ini (Surat al Kautsar/108:3) turun sebagai bantahan terhadap ucapan itu (R. Ibn jarir). (Lihat asbabun nuzul surat al Kautsar, Qomaruddin shaleh, dkk)

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menganugerahimu al Kautsar. Maka karena itu shalatlah dan angkatlah kedua tanganmu. Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan.” (QS. Al Kautsar: 1-3)

Nabi diberi anugerah yang agung oleh Allah berupa Al-Kautsar dan jiwa beliau menjadi tenteram ketika diberitahu bahwa orang yang mencelanya tidak memiliki keturunan, sebaliknya justru dia sendiri yang “abtar” alias tidak berketurunan.

Menurut Allamah Thabathaba’i,

“Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan.”Yang dimaksud “abtar” ialah orang yang terputus keturunannya, sedangkan yang dimaksud al-Kautsar ialah banyaknya keturunan Nabi saw dimana ini merupakan anugerah bagi beliau. Atau al Kautsar juga berarti kebaikan yang banyak. Dan banyaknya keturunan masuk dalam kategori kebaikan yang banyak. Kalau tidak kita maknai demikian maka firman-Nya, “Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan,” sulit dipahami.

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa surat ini turun kepada seseorang yang mencela Nabi saw dan mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai keturunan lagi setelah anaknya Qosim dan Abdullah meninggal dunia. Dengan demikian ini, riwayat tersebut membantah tafsiran yang mengatakan bahwa yang dimaksud “abtar” ialah ejekan seorang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi saw terputus dari kaumnya atau terputus dari kebaikan lalu Allah membantahnya dan mengatakan bahwa justru yang mengejek beliau yang terputus dari kebaikan.

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa anak-anak Fatimah as adalah keturunan Nabi saw. Hal ini dengan sendirinya mengisyaratkan keagungan Al-Qur’an al-Karim dimana Allah SWT memperbanyak keturunan Rasul saw sepeninggal beliau, sehingga tidak ada suatu keturunan pun yang menandingi mereka, meskipun mereka dibunuh dan mengalami penderitaan serta musibah.

Firman-Nya:

“Maka karena itu shalatlah dan angkatlah kedua tanganmu”.Konteks ayat ini menjelaskan perintah penegakan shalat dan melaksanakan nahr. Alasan di balik penunaian shalat ini tersebut dalam ayat: “Sesungguhnya Kami menganugerahimu al Kautsar.” Ini merupakan wujud syukur atas nikmat. Dan maknanya ialah: ketika Kami telah mengaruniaimu al-Kautsar maka bersyukurlah atas nikmat ini dengan melakukan shalat dan angkatlah kedua tanganmu saat takbir dalam shalat sampai di atas dada.

Yang dimaksud “nahr” ialah—sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahli Sunah dan Syi’ah dari Nabi saw dan dari Imam Ali bin Abi Thalib dan Syi’ah meriwayatkannya dari Imam ash Shadiq dan imam-imam yang selainnya—mengangkat kedua tangan sampai di atas dada saat takbir di dalam shalat. Ada juga yang berpendapat bahwa makna ayat yang tersebut: “Tunaikanlah shalat Ied (Hari Raya) untuk Tuhanmu dan potonglah unta. Dan ada yang berpendapat lagi bahwa maknanya: “Shalatlah untuk Tuhanmu dan berdirilah dengan tegak saat mengangkat kepalamu dari rukuk. Firman-Nya: Sesungguhnya orang yang membencimu dia-lah yang tak berketurunan.”

Yang dimaksud as syani’ ialah al mubghid (yang membenci) dan al abtar ialah yang tidak memiliki keturunan. Dan orang yang membenci dan mencela Nabi saw adalah Ash bin Wa’il.

******

Fatimah az Zahra begitu berharga di mata ayahnya, Baginda Rasulullah saw. Tanpa Fatimah, Nabi saw tak berketurunan. Tanpa Fatimah, tak ada yang kufu`(sebanding) dengan penjebol benteng Khaibar, Imam Ali bin Abi Thalib bin Abi Thalib. Tanpa Fatimah, tak akan lahir dua pemuda penghulu surga, al Hasan dan al Husin. Tanpa Fatimah, tak akan pernah ada kisah ketegaran dan kesabaran Srikandi Karbala, Zainab al Kubra. Tanpa Fatimah, tak akan tercium aroma kecemburuan yang dihembuskan oleh Aisyah. Betapa Aisyah tidak cemburu karena setiap Nabi saw hendak meninggalkan rumahnya maka rumah terakhir yang dikunjunginya adalah rumah Fatimah. Dan saat pulang dari bepergian maka rumah pertama yang disinggahinya adalah rumah Fatimah. Maka, Fatimah adalah terminal pertama dan terakhir bagi Rasulullah saw. Bahkan tak sungkan-sungkan Nabi saw mencium putri semata wayangnya ini sambil bersabda: Setiap kali aku merindukan aroma surga maka aku mencium putriku Fatimah.Dan cukuplah kebesaran Fatimah az Zahra ketika kran keturunan Nabi saw mengalir cukup deras dari rahim sucinya. Meski para musuh kebenaran mencoba menghabisi keturunan Rasul saw dengan berbagai cara sepanjang sejarah dan tragedi Karbala adalah cara paling biadab yang mereka lakukan namun Allah SWT berkehendak untuk menjaga keturunan suci ini sehingga keturunan dan anak-anak Fatimah tetap ada di berbagai belahan bumi. Dan meski keturunan Rasul saw tidak berasal dari sulbi pria (karena semua anak laki-laki beliau meninggal di waktu kecil) namun beliau tetap berbangga dengan dijadikannya Fatimah sebagai penerus keturunan beliau. Oleh karena itu, beliau memanggil al Hasan dan al Husain dengan sebutan ya waladi (wahai anakku), bukan, ya shibthi (wahai cucuku). Yang demikian itu karena Allah SWT berkehendak untuk menjadikan Fatimah sebagai jembatan kesinambungan keturunan Nabi saw.

Jadi, Fatimah bukan hanya sekadar wanita biasa. Beliau—sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw—adalah penghulu para wanita semesta alam. Bahkan saking hebatnya putri Khadijah ini, Nabi saw menyatakan dalam hadis yang sahih bahwa ledakan emosi Fatimah adalah ledakan emosi Allah dan restu dan kegembiraan Fatimah adalah restu dan kegembiraan Allah. Akhirnya, Fatimah adalah keajaiban sejarah. Dan Fatimah adalah mukjizat Rasulullah saw yang abadi.

Salam kepadamu wahai Fatimah az Zahra di saat engkau dilahirkan… Salam kepadamu wahai ibunda tersayang al Hasan dan al Husin di saat engkau dikebumikan di malam hari secara rahasia oleh suami tercintamu…Dan salam kepadamu wahai belahan hati Nabi saw di saat engkau dibangkitkan kembali di sisi Allah SWT

*****

La'alla Nafa'a ^^

Rabu, Juni 25, 2008

MasyaALLAH Baunya...!!!

Diposting oleh Soraya di 6/25/2008 10:34:00 AM 1 comment
Pagi ini w s/ bysa bangun kesiangan alias jam 6 lewat, hehe..kebiasaan buruk yg g ilang2 :( trus beberes siap2 berangkat, n 7.20 keluar rumah. dari polonia ke cawang naek 16, tumben2an nih indra penciuman w terganggu dg bau2 aneh, apa abangnya lom mandi ( mulai deeh negative thingking..! ), apa karena ada 2 orang anak pengamen yg duduk mojok di mikrolet ini atau apa, cuma yg jelas. i dislike this smell :((

Alhamdulillah dapet 74 nya g pake lama, tapi.. lagi2 bau aneh.. ( dalam hati.." Ya Rabb.. apa w yg bau, masa sih..?! kan w dah mandi ), dan taukah bau itu berasal dari mana..??? hm.. awalnya w g tau itu bau apa, pokoke bikin enek n g betah.. mana macet banget lagi, makin tersiksa dah T_T.. w berdiri menghadap bangku 2 yang isinya itu pasutri + anak mereka yg masih kecil ( < 1th ), tu anak nangis g berenti2.. hadooh..g nahan bet, udah "bau" + tangisan tu anak yg kuenceng n g abis2.. ( dalam hati kasian banget sih ni anak, dikasih mimi g mau, diapain aj g mau, kasian ibunya.. ). si Ayah hanya diam n sesekali nyentil telingan si anak, paragh bet tu Ayah, tau anak nangis malah tambah2an dibikin nangis.. Ya Allah..rasanya w mo cepet2 turun dari tu bus, tapi macet dari Tebet-Kuningan tak kunjung usai.

Ternyata setelah agak beberapa lama, w tau penyebab si anak g berenti2 nangis.. hm.. pantes tu anak g betah.. Huff.. MASYAALLAH.. itu anak BAB di pangkuan ibunya, Astagfirullah... pantes bau ini bener2 bikin w enek ( untung g sampe mumun ), di bus AC, w bener2 berdiri depan mereka, pengen pindah imposibble, posisi w udah disitu g muat lagih, pengen balik posisi berdiri g enak hati, huuufh..serba salah n kesel sendiri jadinya. mana dibelakang w ada cowo kakinya makan tempat bikin w g bisa leluasa bergerak, Innalillah.. semua Talbiyah keluar deh dari mulut w.

Banyak hikmah dari kejadian td pagi itu, at least w ga bakal lupa kenangan "buruk" hari terakhir kontrak magang w di Jetcoms, trus juga ternyata jadi seorang ibu itu "sahl jiddan" n ternyata si Ayah pun sama buruknya dalam menyikapi situasi macam gtu. Huff.. pikir panjang deh, trnyata jadi wanita itu bener2 harus SABAR, X-Tra Sabar malah.. menghadapi si Anak..mengahadapi si Suami yang dalam pandangan w sih "menyebalkan", bisanya maen tangan sama anaknya, klo udah kaya gitu posisi anak istri kayanya beban banget wat Laki2 yang bertitle Ayah itu. lagian ibunya jg sih ga prepare, knp si anak g dipakein Pampers.

Alhamdulillah sampe juga di Bonjer, masih 8.10, alhamdulillah lagi g telat. Turun dengan nafas yg lega banget, g ada bau2 aneh lagi..

Senin, Juni 16, 2008

Semangat Saling Menasehati

Diposting oleh Soraya di 6/16/2008 03:52:00 PM 0 comment

"Demi masa. Sesungguhya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr : 1-3)

Dalam ayat di atas, tersirat bahwa seseorang akan beruntung kalau ia menggunakan waktunya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang alangkah indahnya bila kehidupan kita sudah disemarakkan dengan semangat saling menasihati. Betapa tidak? Setiap orang butuh keselamatan. Selamat dari kerusakan, kebodohan, kecelakaan, kekurangan, kelalaian, dan kesalahan. Ia tidak mungkin dapat melihat bahaya-bahaya tadi hanya dengan mata dan telinganya sendiri. Ada ribuan mata dan telinga saudaranya yang dapat yang dapat membantu melihat bahaya-bahaya yang mengancam. Pemberitahuan itu adalah nasihat, saran, atau kritik.

Makna dari nasihat adalah ‘menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran’, yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan mengajaknya untuk tidak melakukan perbuatan yang malah dapat menjauhkan diri dariNya. Dan merupakan tugas setiap muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk saling nasihat menasihati seperti dalam firman-Nya : “Dan hendaklah ada dari antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran 4: 104).

Gawatnya, ketika memberikan nasihat kita semangat, ketika memberikan saran semangat, ketika memberikan koreksi semangat, akan tetapi ketika giliran kita dikoreksi justru kita tidak sanggup menerimanya. Oleh karena itu kepada siapapun yang akan memberikan nasihat, syarat utamanya adalah kita harus menjadi orang yang terlatih untuk menerima nasihat, terlatih untuk menerima kritik, dan terlatih untuk menerima koreksi.Sebelum kita sanggup untuk melatih diri kita, sulit sekali kita dapat memberi nasihat yang memiliki kekuatan yang menggugah dan memberi perubahan. Nah, secara sederhana di sini ada beberapa kiat yang dapat kita terapkan dalam menerima nasihat atau kritik agar dapat menjadi sarana pembangunan kemuliaan.

Pertama, rindu kritik dan nasihat. Kita harus memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, rindu dinasihati, seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Walaupun wajah yang ada dalam cermin adalah wajah yang itu-itu juga, namun kita tidak pernah keberatan untuk merapikan rambut, manakala cermin memperlihatkan gambar rambut yang acak-acakan. Kita pun tidak pernah marah kepada cermin bila di cermin kita melihat di mata kita ada kotoran. Reaksi kita adalah membuang kotoran itu dan bukan memecahkan cermin. Ketahuilah, orang-orang di sekitar kita adalah cermin yang memberitahukan apa kekurangan kita. Sehingga sepatutnyalah kita bergembira ketika ada yang memperlihatkan kekurangan kita, karena dengan demikian kita menjadi tahu dan dapat segera memperbaiki diri.

Kedua, cari dan tanya. Belajarlah bertanya kepada orang tentang kekurangan-kekurangan kita dan belajar pula untuk mendengar dan menerima kritik. Milikilah teman yang mau jujur mengoreksi, tanya pula kepada istri, suami, anak-anak, karyawan dan lain-lain.

Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa kritik tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kritik selain mengandung isi juga melibatkan cara. Kadang isinya benar tetapi caranya kurang bijak. Ada yang isinya salah tetapi caranya benar. Ada yang isi maupun caranya salah. Adapula yang isi dan caranya juga benar. Namun tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita selama cara kita menyikapinya benar. Dengarkan dengan baik dan jangan memotong apalagi membantah.

Keempat, syukuri. Adanya orang yang peduli dengan memberikan kritik kepada kita merupakan karunia yang patut disyukuri. Jangan lupa mengucapkan terima kasih. Bila kita berubah menjadi lebih baik melalui nasihat seseorang, jangan lupakan ia dalam doa kita dan sebutlah namanya ketika kita menyampaikan nasihat yang sama kepada orang lain. Nikmati kritik itu sebagai karunia Allah, karena seseorang tidak akan mati karena dikritik.

Kelima, perbaiki diri. Lihatlah apakah benar ada kekurangan pada diri kita. Jawaban terbaik ketika dikoreksi bukanlah membela diri tetapi memperbaiki diri. Sibukkan diri dengan mendengar kritik dan iringi dengan memperbaiki diri. Memang orang yang lemah, orang yang sombong, orang-orang yang penuh kebencian, tidak pernah tahan terhadap kritik. Jika ada yang mengkoreksi maka dirinya sibuk untuk membela diri, sibuk untuk berpikir dan sibuk untuk membalas, ketahuilah bahwa orang yang demikian itu tidak akan bisa maju. Lalu bagaimana jika lalu kita dihina terus? Jangan risau! Karena semua orang yang sukses dan mulia itu pasti ada yang menghina. Tidak akan pernah didengki kecuali orang yang berprestasi.

Keenam, balas budi. Sebagai orang yang tahu terima kasih dan menghargai sebuah pemberian, sudah selayaknya kita membalas pemberian kritik itu sebagai pemberian hadiah pula. Kalau tidak mampu memberikan sesuatu yang berharga, paling tidak sebuah ucapan terima kasih yang tulus dan doa yang ikhlas.

Saudaraku, nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif dan tentunya penuh makna dan manfaat bagi semua orang yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemunkaran yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Dan bukanlah sebaliknya, menganjurkan kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Sebagai catatan, apapun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya jika cara menyampaikannya pun benar.

Dengan nasihat kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa menjadi bertobat, intinya kalau dilandasi niat yang baik akan melahirkan kebaikan juga.

Ingatlah! Yang paling penting dari suatu nasihat, kritik, dan koreksi itu adalah niat yang mendasarinya. Kalau didasari niat ingin menjatuhkan, koreksi itu hanya akan menjadi pisau atau panah beracun.Harusnya nasihat kita itu dilandasi dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan.

Kalau niat sudah baik caranya juga harus benar. Nabi Muhammad Saw itu adalah seorang penasihat, tetapi nasihatnya itu betul-betul bil hikmah, semuanya penuh dengan kearifan dan kematangan. Beliau memperbaiki peradaban yang begitu keras dan berat justru dengan kelembutan. Pendek kata, kita butuh nasihat yang tulus dari hati yang penuh kasih sayang dengan kata-kata yang terpilih yang tidak melukai diiringi dengan sikap yang tidak menggurui, tidak mempermalukan, tidak memojokan, sehingga orang berubah bukan karena ditekan oleh kata-kata kita melainkan tersentuh oleh kata-kata kita.

Sahabat-sahabat, marilah kita terus berlatih untuk menyayangi orang lain karena itulah sumber yang utama agar nasihat kita menjadi bijak dan penuh kemuliaan. Dan sebaik-baik nasihat adalah dengan suri tauladan, hancurnya orang-orang yang sibuk memberi nasihat adalah ketika apa yang dia katakan tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Wallahu a’lam bishawab.

( Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar )

***

Bingung mo posting apaan lagih, jadinya boleh copast dech.. abisnya bosen liat tampilan blog sendiri.. ( emang ga ada bakat nih.. ) maklum aj deeh..

Oia..sekalian mo ngucapin "Syukron Kastir..Jazakillah Khoiron kastiro.." wat temen2 w yg udah care ma w.. ( tak bisa kusebutkan atu2.. ) maafkan khilaf w yah.. Thanks wat boneka benko nya.. ^^ klo ga begini kan ga dapet jadinya..hihihi.. Thanks Nu'..

semangat tuk saling menasehati.. tetep nasehatin w yah temen2.. jangan tinggalin w ( kaya apa aj )

Kholash.. la'alla nafa'a!!

Rabu, Mei 14, 2008

Jadwal OTAK

Diposting oleh Soraya di 5/14/2008 09:20:00 AM 6 comment
Seorang teman pada awal tahun 2002 pernah meminjam salah satu buku bisnis saya. Dia mengatakan ingin belajar bisnis, karena kebetulan dia lulusan dari teknologi pangan. Seminggu kemudian ketika saya kerumahnya, buku tersebut masih `utuh’ belum tersentuh, terletak diatas meja dengan sedikit debu diatasnya. Dia mengatakan bahwa minggu ini dia sibuk sekali. Mungkin pada akhir pekan dia akan mulai membaca.

Setahun kemudian ketika saya kesana, ternyata debu diatas buku tersebut bertambah tebal. Dan teman saya masih belum mempunyai waktu untuk membaca karena kesibukannya. Saya akhirnya ambil kembali buku tersebut, karena saya memang sedang membutuhkan informasi didalamnya.

Lalu, bagaimana dengan teman saya ? Saya katakan kepadanya, bahwa seumur hidup dia TIDAK AKAN PERNAH PUNYA WAKTU untuk membacanya. Benarkah ? Atau mungkin saya yang terlalu `pelit’ untuk meminjamkan lagi buku saya kepadanya.

Setiap orang sudah punya `jadwal tetap harian’ di dalam otaknya, mulai dari bangun pagi, gosok gigi, mandi, solat, sarapan, ke kantor, bekerja, hingga tidur malam. Pada awal teman saya tadi meminjam buku, dia berusaha memasukkan `menu baru’ ke dalam `jadwal tetap’nya. Menu baru itu akan tetap disitu jika kita melakukan aktivitas tersebut, namun jika tidak `peringkat’nya akan terus menurun.

Setelah satu tahun, peringkat menu `baca buku’ itu pasti sudah terlempar dari 100 besar. Sangatlah sulit untuk mendongkrak kembali ke urutan 10 besar jika tidak ada alasan yang sangat kuat.

Berapa banyak dari kita yang berperilaku seperti itu ? Menunda hal-hal kecil seperti membaca buku, membersihkan rumah, menata lemari pakaian, dll sampai akhirnya pekerjaan tersebut tertunda terus hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Seringkali juga pekerjaan tersebut akhirnya tidak jadi dilaksanakan. Ada tiga hal yang bisa mendorong kita untuk melakukan pekerjaan yang sering tertunda tersebut, yaitu Alasan, Prioritas dan Komitmen.

Alasan

Setiap orang jika menjumpai hal baru selalu timbul satu pertanyaan di benaknya “What’s in it for me ?” Apa manfaat hal baru tersebut untuk saya ? Adakah manfaat tersebut membawa saya ke kehidupan yang lebih baik ? Adakah manfaat tersebut membutuhkan kerja keras ? Adakah manfaat tersebut dapat dinikmati dalam jangka panjang atau pendek ?

Prioritas

Merupakan urutan yang anda letakkan bagi hal baru tersebut. Anda bisa menentukan prioritas hal baru tersebut dengan menanyakan ke diri sendiri beberapa pertanyaan berikut : Seberapa penting hal baru ini dibanding dengan hal yang sudah ada ? Kalaupun lebih penting, haruskah saya kerjakan sekarang ? Dapatkah hal baru ini ditunda kapan- kapan ? Masa iya saya harus menunda pergi ke mall karena harus harus baca buku ?

Komitmen

Komitmen adalah janji anda kepada diri sendiri. Komitmen sendiri terbagi menjadi 3 jenis, yaitu :

* saya akan lakukan jika saya ada waktu
Komitmen ini yang kerapkali dilakukan oleh orang-2 yang merasa dirinya sangat sibuk. Mereka akan melakukan tugas baru tersebut disela-sela jadwal mereka yang padat. Itupun kalau memang ada waktu luang. Mengapa mereka melakukan ini ? Sudah jelas, mereka tidak punya alasan ! Itulah mengapa alasan diletakkan di tempat pertama.

* saya akan lakukan semaksimal mungkin
Komitmen kedua ini yang kerap dikatakan orang-2 yang sudah punya alasan, dan berusaha mengerjakan sesuatu sebaik mungkin. Tapi komitmen ini juga tidak cukup kuat. Ibaratnya anda mengisi bak air, pada komitmen kedua ini mungkin anda hanya sanggup mengisi setengahnya saja, karena memang sampai disitu saja anda menganggap kerja anda sudah 100 %.

* saya akan lakukan sampai selesai.
Kelihatannya yang ketiga ini cukup sederhana, tapi justru ini yang tersulit. Pada komitmen ketiga ini, anda mungkin harus bekerja lebih keras dan lebih lama, untuk mengisi bak air itu sampai penuh. Anda mungkin bekerja sampai 120 % untuk menyelesaikannya.

Oke, Alasan, Prioritas dan Komitmen. Kalau ketiga hal ini sudah saya laksanakan, adakah hal-hal baru tersebut bisa saya selesaikan ?

Belum, ada langkah terakhir, yaitu action. Sekuat apapun komitmen anda, tentu tidak akan berjalan tanpa tindakan dari anda. Lakukan hal-hal diatas secara terus menerus, karena suatu hal baru akan menjadi kebiasaan jika sering dilakukan.

Selamat bekerja !

- Sonny V. Sutedjo - (artikel pernah dimuat di Majalah Pengusaha Feb. 2004)

****

Sejalan sama 3Mnya "Aa' Gym", mulai dari hal yg kecil, mulai dari diri sendiri n mulai dari yg sekarang..

hehe..jadi inget minjem buku tapi lom w sentuh sama sekali isinya..maaf yawh, sudah berubah wujud dari 'cakep' menjadi 'kurang cakep'..afwan jiddan akhi..! :p akan w masukin jadi menu di hari sabtu or minggu, smg berjalan. amin!

ok dech, segitu aja, la'alla nafa'a.. ^^

Jumat, Mei 09, 2008

Notes..

Diposting oleh Soraya di 5/09/2008 10:23:00 AM 4 comment
Seperti saat belanja, barang yang anda catat akan lebih besar
kemungkinan terbeli, sementara barang yang tidak anda catat -
akan lebih besar kemungkinan untuk terlupakan.

Sama juga dengan itu, buatlah catatan tentang apa yang anda
ingin capai hari ini, supaya kemungkinan anda bisa mencapainya
menjadi lebih besar. Bersamaan juga dengan itu, buat catatan
tentang masalah dan tantangan anda karena masalah yang tercatat
akan lebih mungkin untuk diselesaikan.

Saat membuat catatan, anda memiliki satu sekutu besar di pihak
anda — yaitu komitmen dan kendali. Saat anda menuliskan catatan,tindakan itu telah mencerminkan sebuah komitmen untuk menyelesaikan
masalah. Dan saat anda mulai mencatat - anda telah mengubah
pikiran anda menjadi kerja - dan itu berarti kendali, anda telah
berusaha mengendalikan masalah anda.

Dengan menuliskan masalah anda, anda mulai mengambil alih kendali
atas masalah. Dengan menuliskan tujuan anda, anda mulai bergerak
dari sekedar dorongan keinginan - menjadi dorongan untuk mewujudkan.

Sekali lagi. Buat catatan.

***

emang penting lho, klo udah terlalu sibuk ampe bingung mana duluan yg mesti dikerjain, dicatet tuh solusi terbaik, coz dg mencatat semua masalah yg belom terselesaikan akan terlist n akan bisa di solve satu2.. yaah..akhir2 ini, w sering banget pikun, makanya w bikin catetan apa yg mesti w kerjain. ok deh..segitu aja, semoga bermanfaat! :)

( resensi.net-buat catatan )

Selasa, April 29, 2008

74 Oh....74

Diposting oleh Soraya di 4/29/2008 12:40:00 PM 0 comment
Perjalanan menuju kantor pada pagi Selasa ( 29 April '08 ) ini benar2 melelahkan.. Huff.. Tiba di Cawang sekitar pukul 7 lewat 20an. kemarin sih 74 dateng jam 7.35, tapi hari ini tidak seberuntung hari kemarin, 74 datang lebiiih lama, jam 7.55 dg kondisi bus yang "over load".. dan dengan kondisi yg seperti itu, w harus ttep berusaha menyelinap n memaksa ikut tuh bus, hiks.. w ga mao kejadian "tidak diangkut" itu terulang lagih, kejadian yg menyakitkan.. ( haha..berlebihan! ).

Tapi..emang menyakitkan sih, bayangin aja, nggu lama2, panas2an pula.. eh..yg ditunggu menolak kita mentah2, sekalian aja g usah lewat depan mata w tuh bus. abis gimana yaah.. mo nyari alternatif bus lain -P6, macetnya yg g nahanin di beberapa titik tertentu ruas jalan sepanjang gatsu-tomang, huff.. yaudah deh, w bela2in nggu 74. biar selepas kuningan, bisa lancaaaar ampe kb. jeruk.

Udah bysa sih sebenernya dg kondisi seperti ini, tapi..kali ini bener2 kerasa banget perjuangannya, mana tak sarapan :(. nyampe kantor alhamdulillah g telat -8.24, walopun ni baju udah kaya abis dicuci, tapi w seneng coz g ampe merah absen w, hihihi.. walopun dari rumah wangi ampe kantor udah beda lagi wanginya.

selama di bus yg penuh sesak itu, untung depan w mba2 ( intinya seorang wanita yg bisa w jadikan tempat berpegangan, coz..tubuhku terlalu mini untuk menjangkau dinding atas bus ), dibelakang w jg mba2, tapi samping kanan bawah ada cowo duduk di lantai bus, bikin risih ajah.. :(, n samping kiri kenek bus yg bertubuh besar. bahkan slah satu penumpang ada yg nyeletuk " ni keneknya makan tempat nih, suruh turun aj ", hwahahaha.. bener juga siih. Sedikit terhibur dg alunan musik 98.7 FM yang disetel si driver. huff.. yang paling ngeselin, ni bus ngakunya Patas AC, tapi ko disaat2 over load kaya gtu, ACnya seakan mati, semua penumpang berebut oksigen.. suasana yang melelahkan sepanjang tebet-kuningan, dg kondisi berdiri yg g sempuna.

setelah sampe bonjer.. barulah bisa menghirup udara, walopun tidak segar. melintasi RCTI dg mempercepat derap langkah agar tidak ada kata "terlambat" hari ini. oia, jadi inget, semalem ba'da maghrib di Raudhatul Jannah RCTI ada kajian, pembahasannya sih ttg "Saariqoh => pencurian", beserta hukuman2 nya. um..bentaran sih dengerinnya, bisnya dah mo pulang :P. yupz..sampe kantor langsung dah bikin ini itu dg nafas yang masih lom stabil..

hm..semoga perjuangan pagi ini tidak terulang lagih pada keesokan harinya.. n maaf malah jadi curhat g jelas gini.. :D

Kamis, April 10, 2008

Ngambil keputusan...?? Sulitnya bagiku...!

Diposting oleh Soraya di 4/10/2008 12:14:00 PM 0 comment

(Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada 4JJI. Sesengguhnya 4JJI menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya) QS Ali ‘Imran 159

Banyak diantara kita tidak yakin ketika akan mengambil keputusan, sehingga gelisah, bingung dan ragu. Dan akhirnya dia selalu berada dalam tertekan dan pusing berkepanjangan. Adalah kewajiban seorang hamba untuk selalu bermusyawarah atau beristikharah kepada 4JJI. Kemudian merenung sebentar, setelah itu jika kemudian dia merasakan ada sesuatu yang menurutnya paling tepat, majulah dan jangan ragu-ragu. Sekarang bulatkan tekad, tawakkal, dan mantapkan hati, agar hidup ragu-ragu dan bimbang cepat berakhir.

Sebelum perang Uhud, Rasulullah berdiri di depan mimbar memimpin musyawarah. Para sahabat merekomendasikan agar Rasulullah turun langsung ke medan perang- Maka Rasulullah Segera memakai baju perang dan mengambil pedang. Tapi rekomendasi sahabat itu justru membuat mereka kikuk sendiri, sehingga harus meyakinkan kepada Rasulullah,“Apakah kami telah membuatmu tidak suka wahai Rasulullah?Bagaimana kalau engkau tinggal di Madinah saja?“Rasulullah menjawab,“Tak pantas bagi seorang Nabi jika dia telah memakai baju perangnya untuk melepaskannya kembali hingga 4JJI menentukan apa yang akan terjadi antara dia dengan musuhnya.“ Rasulullah keluar dengan semangat yang tinggi.

Rasulullah juga bermusyawarah dengan para sehabatnya pada saat perang Badr:

(Dan, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu) QS Ali ‚Imran :159 (Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah) QS Asy-Syura :38

Sikap ragu-ragu adalah ketidakberesan dalam melihat sebuah peermasalahan, semangat yang loyo, ketidakbulatan tekad,kegigihan yang tak ada obatnya kecuali dengan ketekadan,perbuatan, dan keteguhan hati. Banyak kasus yang menjelaskan bahwa keputusan-keputusan kecil dan permasalahan sepele harus maju mundur tak pernah selesai selama bertahun-tahun. Hal ini bisa diterka bahwa faktor orangnyalah yang harus dibenahi. Mereka selalu ragu dan tidak punya keteguhan hati untuk mengambil keputusan, yang bisa jadi karena faktor dalam dirinya atau faktor luar.

Mereka memberi jalan kepada kegagalan untuk menyatu dengan jiwa mereka, dan ternyata mereka berhasil.

Yang harus dilakukan setelah mempelajari kenyataan adalah memikirkan permasalahan itu, bertukar pendapat dengan orang yang bijaksana dan berpengalaman, beristikharahlah kepada Rabb semesta, berjalan ke depan menghadapi masalah, dan menyelesaikan yang sudah ada di depan mata terlebih dahulu.

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga bermusyawarah dengan para sahabat terlebih dahulu sebelum menentukan sikap, apakah akan memerangi orang-orang yang murtad atau tidak. Para sahabatpun merekomendasikan untuk tidak memerangi mereka. Tapi Abu Bakar lebih memilih perang dengan pertimbangan bahwa dengan perang akan tampak kebesaran Islam, menangkas benih-benih fitnah yang akan muncul berikutnya, dan menekan kelompok-kelompok yang potensi akan keluar dari kesucian agama. Cahaya 4JJI yang diterimanya pada waktu tidur menguatkan pendapatnya bahwa perang lebih baik. Maka Abu Bakarpun membulatkan tekadnya dan bersumpah,“Dan demi Dzat Yang Jiwaku ada di tangan-Nya, saya akan perangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Demi 4JJI, seandainya mereka tidak mau menyerahkan tali kepala yang pernah mereka berikan kepada Rasulullah, niscaya aku akan perangi mereka.“

Setelah peristuwa itu selesai Umar mengatakan,“ ketika saya menyadari bahwa 4JJI telah membukakan hati Abu Bakar, saya tahu bahwa apa yang telah dia lakukan adalah benar.“buktinya, Abu Bakar jalan terus dengan pendapatnya, dan berhasil. Pendapatnya memang benar, tanpa pretensi dan penyimpangan apapun.

Sampai kapan kita terus goyah?Sampai kapan kita berjalan ditempat?Dan sampai kapan kita terus ragu untuk mengambil keputusan Jika punya pendapat, maka kuatkan tekadmu itu,

Pendapat itu akan hancur ketika kamu ragu

Menggagalkan rencana yang sudah setengah jalan adalah kebiasaan orang munafik dengan selalu mempertanyakan lagi rencana yang sudah dijalankan dan mempertanyakan lagi rencana-rencana yang masih akan diambil.

(Dan, jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain kesusakan belaka) QS. At-Taubah :47

(Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang:“Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.“Katakanlah: Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar“) QS. Ali Imran :168

Mereka selalu mengatakan “seandainya“, ...akan jadi begini jika begini“, dan “bisa jadi“. Dampaknya, kehidupan mereka pun berdiri di atas pengandaian, di atas langkah yang maju mundur, dan ketidakjelasan.

(Mereka dalam keadaan ragu-rgu antara yang demikian (iman dan kafir): tidak masuk pada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan ini (orang-orang kafir).) QS. An Nisa :143

Sesekali mereka bersama kita dan lain kali bersama mereka, kadang-kadang disini dan kadang-kadang disana.

Disebutkan dalam hadist “laksana domba-domba yang banyak yang berada diantara dua kawanan kambing.“ Dan pada saat terjepit mereka akan mengatakan (sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu) QS. Ali ’Imran: 167)

Dengan mengatakan seperti itu sebenarnya mereka tidak jujur kepada 4JJI dan kepada diri mereka sendiri, mereka menghindari masa-masa susah dan akan datang ketika keaadaan mulai membaik.

Keputusan yang mereka ambil adalah keputusan kearah kegagalan dan kesengsaraan. Mereka berkata dalöam surat Al Ahzab: 13 :

(Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).)

Ayat di atas pernyataan yang intinya adalah dalih agar bisa berkelit dari kewajiban dan menghindar dari kebenaran yang nyata

(dari Buku La Tahzan, DR. Aidh Al-Qarni, hal. 452)

hm...berasa banget susahnya ketika w g bisa ngambil sesuatu yang disebut " keputusan ". ntah itu yang bersifat positif maupun yang negatif ( paragh! ). namun yg pasti, w punya sih azam tuk memiliki kepribadian yang mampu menjadi 'qiyadah' linafsi.. , tapi azamnya belom terbukti, hehehe..memalukan!

masih krisis mental, jadi yah beginian deh postingannya. boleh ngopi pula.. ( T_T ).. semoga bermanfaat bagi para qira'ah.. ^^

Selasa, Maret 11, 2008

-- whip of heart --

Diposting oleh Soraya di 3/11/2008 11:28:00 AM 5 comment
Kesenangan cinta
adalah karena ingin tetap bersama dengan yang dicintainya
Kami merasa heran dengan orang yang selalu mencela
orang yang sedang dimabuk cinta
padahal selama hidupku
aku hanya cinta kepada Allah dan merindukan-Nya
Aku duduk dan aku berdiri, hanya karena Dia sepanjang hidupku

***

Jiwa orang yang cinta selalu memperhatikan yang dicintainya
dan hatinya terasa hancur karena kecintaannya
Kebanggaan orang yang dimabuk cinta
ialah apabila malam hari yang dilaluinya
hanya bersama dengan yang dicintainya
tempat ia mengadu dan mencurahkan isi hatinya
Dia berdiri di mihrab mengadukan kesusahannya
sedang hatinya penuh gelora cinta kepadanya

***

" Dunia itu adalah racun Allah yang banyak membunuh hamba-hambaNya. Oleh karena itu, ambillah darinya sekadar apa yang biasa diambil untuk dijadikan obat agar kita selamat "

***

Manusia ada tiga macam ;

- seseorang yang disibukkan oleh hari berpulangnya hingga lupa akan penghidupannya, maka yang demikian itu adalah tingkatan orang-orang shalih.
- seseorang yang disibukkan oleh penghidupannya untuk hari berpulangnya, maka yang demikian itu adalah tingkatan orang-orang yang beruntung, dan
- seseorang yang disibukkan oleh penghidupannya sehingga lupa kepada hari berpulangnya, maka yang demikian itu adalah tingkatan orang-orang yang binasa.

( "Siyaathul Quluub ", Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni )

***
karena udah lama g bikin postingan baru, jadinya yang keluar cuma kutipan dari buku aj deh.., yah.. kali kali aja bermanfaat wat yang ngebaca. btw, thanks yah wat yang minjemin ni buku ^_^..

um..isi kutipan tsb jangan liat siapa yang menyampaikan yah..hihihi..tapi liat apa yang disampaikan, okeh?! ;) undzur ila ma qol wa la tandzur ila man qol..

Kamis, Februari 28, 2008

Gimana ini..

Diposting oleh Soraya di 2/28/2008 10:35:00 AM 0 comment
bingung banyak kerjaan ngerjain yang mana dulu..

Rabu, Februari 20, 2008

Hijjaz's Song

Diposting oleh Soraya di 2/20/2008 11:21:00 AM 2 comment
Mata Hati

Pandangan mata selalu menipu
Pandangan akal selalu tersalah
Pandangan nafsu selalu melulu
Pandangan hati itu yang hakiki
Kalau hati itu bersih

Hati kalau selalu bersih
Pandangannya kan menembusi hijab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat kehendak Allah
Tapi hati bila dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran

Hati tempat jatuhnya pandangan Allah
Jasad lahir tumpuan manusia
Utamakanlah pandangan Allah
Daripada pandangan manusia

************************************************************
Tapi sekarang hatiku kotor.. kotor sekotornya.. jadinya udah g bisa lagi deh yang namanya nembus hijabNYA, udah ngga bisa lagi memiliki firasat2 yang emang kehendakNYA, udah bukan kebenaran lagi yang didengar..hehehe.. namun ku yakin suatu saat nanti ku kan mampu merasakannya kembali..

Fawatstsiqillaahumma Roobithotaha..wa adim wuddaha, wahdiha subulaha..wamla'ha binuurikalladzi laa yakhbuu..

Bagi teman2 yang masih memilikinya, harap dijaga baik2 y hatiny agar tetap bersih.. ^_^

Jumat, Februari 15, 2008

Kemana Kalian...?

Diposting oleh Soraya di 2/15/2008 11:45:00 AM 2 comment
Hm.. Jar, Is.. lagi pengen nulis pengalaman kita waktu study arabic di LPINA neh.. gapapakaaan..??

Berawal dari rasa suka pada salah seorang ikhwan ( ups.. ) jadilah w ikut apa aja yang dia tawarkan..termasuk ikutan kursus bhs arab di LPINA, Klender. Ga hanya itu aja pastinya, itu tergolong salah 2 nya, n salah 1 nya karena ketertarikan w akan bhs arab itu sendiri, terlebih kursusnya bersifat " free ".. hehe.. ( dasar! maonya yg gratisan! )

Ok deeh..hari pertama kita janjian, patokannya ngumpul di Masjid yang ada disebrangnya Psr. Klender ( w lupa apa nama Masjidnya ). abis dari situ, kita jalan ampe LPINA, cukup jauh ternyata, tapi.. w seneng gtu ngejalaninny, Xixixixi.. paragh! Ada udang dibalik bakwan.. saat itu temen 1 perjuangannya cuma ada iis n ajar.. kenangan manis bersama w jangan dilupakan y sobat! hehe..

Oke dee.. hari2 minggu terasa penuh bahasa arab buat w, n seneng coz nambah temen, nambah ilmu, nambah pengalaman, nambah tau jalan, nambah apa aj deh yg baik2.. yah..walaupun kadang semangat w suka ngilang, terlebih temen2 1 STM mulai pada ngilang.. "hm.. i'm alone here.."batin w. tapiii.. ternyata w ngga sendiri, coz temen2 yg laen ( walopun ta' sebaya usianya denganku ) juga bisa deket ma w.. bisa maen ke rumah2 mereka, bisa dateng ke acara walimahan salah1 keluarganya, bisa silaturahmi ke rumah2 guru.. huff.. sayang..masa2 itu udah lewat! thanks atas kenangannya ( ka Rusda, kpn yah aya maen ke hum kaka lagi?! ).

ternyata di tengah perjalanan disana, w bisa ngelurusin niat w, yang awalnya bengkok menjadi tidak begitu bengkok..hihi.. n disana juga terlihat sekali keikhlasan asatidz nya, lulusan LIPIA yang keren bhs arabnya.. bikin w mupeng masuk sana, tapi.. ( ah..tapi tapi mulu, udah lanjut aj storynya ).

Gini, mungkin iis tau tapi ajar ngga, disana itu ada salah seorang pria berinisial " B ", dy punya keunikan n keanehan tersendiri. Um.. keunikan terletak pada kukunya yang puanjaaang banget, melebihi ku2 ku2 pada umumnya. n keanehannya yah pada sikapnya yang terbilang 'abnormal', duuh..maaap banget, bukan bermaksud ngebuka aib orang, lagian para reader juga g tau kan yg mana orangnya..kecuali si Iphaw.. selebihnya orang2nya normal ko, yah kaya w gtu deh..

Oia is.. inget ga waktu awal2 kita disama2in mulu, ampe gurunya lupa yang mana iis yang mana w.. hihi.. lucu yah, tapi emang sih, tampak kuar g beda jauh, sama2 berkerudung + berkacamata.. tapi tetep..bagi yg dah kenal bisa ngeliat perbedaan kita, y kan is?!

Trus..apa lagi yah.. Um.. Oia.. disana tuh makin hari makin sedikit aj yg dateng, w punya temen yang sebaya 1 orang, cewe', inisialnya " A ", sekolahny di LPINA situ, dy udah mulai sibuk dah tuh menjelang ujian ( masih kelas 3 semester 1 ), n dy juga udah jarang ngorbit. termasuk w ( kelas 3 semester 2 ) w dah mulai ngilang tuh, abis penutupan pas mo lebaran ( istilahny penutupan sementara, tapi wat w penutupan selamanya ). udah deh, mulai sibuk prepare UN.. sempet sih ikut halal bi halal gtu ke rumah guru2, tapi bis itu udah deh " the end 4ever "

Suatu saat w telpon salah 1 dari mereka, n bad news " udah g ad lagi kursusny, coz orangny dah g ad juga ".. hiks.. sedih! yah..w salah 1 yang meninggalkan t4 itu, tapi niat w g untuk selamanya ninggalin t4 itu.. sayang banget! nyesel! knp mesti bnr2 tenggelam komunitas itu.. kmana kalian teman2.. kmna para ustadzku yang bersedia meluangkan waktunya hanya tuk menyumbangkan ilmu2 yg mereka mliki.. kpan kita bersua n mengkaji bhs arab bareng lagi.. huhu.. klo di inget2 susah banget ngedapetin komunitas kaya gtu sekarang..

Akhir kata w cuma bisa berdoa, moga ilmu, waktu, keikhlasan Ust. Iryanto, Ust. Bukhari, Ust. Nursyamsi mendapatkan balasan pahala dariNYA, menjadi berkah segala apa yang dimilikinya.. tetap dilindungi oleh Allah beserta keluarganya.. n untuk teman2.. moga g lupa yah wat ngundang2 klo walimah ( jgn2 udah ad yg walimah tapi g ngundang negh.. secara mereka sudah memasuki usia pernikahan.. waaa.. don't forget me teman2.. --> apaan siih, ngarep banget diinget dee ), moga tetep diberi Kesehatan.. Barakallahu lakum...

Um.. tau deh tuh doa w diterima pa ngga, secara w kaya gini sekarang..hahaha.. tapi tetep.. dari lubuk hati terdalam ku meminta padaMU Rabb..kabulkan doa2 yang ku panjatkan padaMU... Amiiiiiiiiiiiiiiiin

Oia, maaf neh yang bagi teman2 yg tidak termasuk dalam kisah di atas..

Hm..akhirnya, ditengah kesibukan bisa juga w bikin postingan baru.. halah.. balik lagi kerja yuuu'..



Selasa, Februari 12, 2008

Ngeluh euy..

Diposting oleh Soraya di 2/12/2008 12:11:00 PM 7 comment
Hm.. bingung mo posting paan, jadinya cucur hangat ja deh..

Dalam diri w banyak pertanyaan, yg sebenernya bisa dibilang ni cuma pertanyaan bodoh aj, hihi..
Kenapa yah berubah itu sulit?? or kenapa yah..hati itu bener2 "muqallib"?? huh.. seumur-umur w g pernah ngerasain bahagia sebahagia bahagianya --> lho lho? knp mempermasalahkan kebahagiaan gene.. tau deh ah.. namany lagi kusut, jadi sukany nyeleneh..

Ad lagi nih pertanyaanny, kenapa yah w tuh orangny bosenan ( lah..apa peduli kalian yak'.. hihi, namanya curhat di blog sendiri gapapakan... )? Iya..w tuh bosenan, palagi klo beraktivitas, wedew...mati kutu dah nih.. tapi y tetep w jalanin, tapi y gtu.. dengan hati yg kurang ikhlas bisa dibilang.. dengan hati yang berat, dengan hati yg terpaksa.. hua.. siapa bisa bantu ubah pola pikir w akan kehidupan ini.. w bener2 merasa bodoh...

Lagi nih, kenapa hidayah itu mudah lepas?? kan susah ngegapainya...

Hm.. jujur.. w bete berat pagi ini.. menyesali kebodohan2 yg nyata.. terlalu banyak kesalahan, terlalau banyak ketidaktelitian... Waaaaaaa..sampe kapan nih.. help... help... w pengen keluar n mencari jalan hidup w sendiri.. cepatlah selesai masa PSG..

Maaf karena isinya keluhan semua.. mohon dimaklumi.. n betapa bodohnya w bercerita tentang aib sendiri di blog ini.. habisnya... w capeeeee... w mau pandangan hidup yang lebih cerah, w mau berubah..tapi hati w cenderung sulit melakukan perubahan..

muhasabah, saum, tilawah, rawatib, n ibadah mahdah lainny udah bener2 w tinggalin sekarang.. huhu.. Aya.. Aya.. mo jadi apa kamu nak..

Sekian curhatan w yg g bermutu ini, aku mencintai diriku sendiri namun ku tak tau bagaimana caranya agar diri ini dicintai oleh pemiliknya..hiks..

Apalah artinya hidup klo hatinya mati.. mompa semangat tuh ternyata cape juga yah.. huh...stock semangat w kayanya sulit banget dipompa lagi --> yahelah.. hiperbolis sekali w ini.. bete bete aja, toh ntar juga bysa lagih.. come on! semangat!! keep fighting!!

moga hari esok mendatangkan banyak kebaikan..

Allahumma inni as aluka khoiro haadzal yaum wa khoiro ma fiih, wa na'udzubika min syarri hadzal yaum wa syarri ma fiih.. amiiiiiin.... ^_^

Rabu, Januari 23, 2008

Antara Kelemahan dan Kemuliaan

Diposting oleh Soraya di 1/23/2008 03:45:00 PM 2 comment

Manusia diciptakan Allah di antara dua sifat, yaitu antara kelemahan dan kemuliaan. Kita harus menyadari bahwa kita diciptakan dengan segala keterbatasan baik fisik maupun pikiran. Sementara kita juga diberikan kemuliaan dengan berbagai kelebihan dibandingkan makhluq lainnya. Kelemahan dan kemuliaan ini diberikan bersamaan kepada diri manusia oleh Allah. Untuk apa?

Kelemahan Manusia

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah(QS. An Nisa:28)

Inilah suatu keseimbangan yang diberikan Allah kepada manusia, antara kelemahan dan kemuliaan. Diberikan kelemahan agar kita lebih waspada dalam bertindak, tidak takabur, dan selalu merasa memerlukan pertolongan Allah dalam kehidupannya. Memang, manusia diberikan berbagai kemulian dan potensi yang dahsyat untuk menundukan alam, tetapi dengan adanya kelemahan pada diri kita, ini akan menyadarkan bahwa kita memerlukan Allah SWT.

Inilah yang membuat kita harus waspada, sehingga memerlukan petunjuk dalam berjalan. Kita memerlukan petunjuk dari Allah agar jalan yang kita tempuh berada dalam jalan yang benar, sesuai dengan fitrahnya. Bayangkan jika kita mengendarai mobil, jika kita merasa mobil yang kita kendarai “sempurna” dan “anti kecelakaan” maka kita akan menjalankan mobil dengan seenaknya atau sembarangan. Tetapi saat kita sadar bahwa masih banyak kelemahan dalam mobil kita, kita akan mengendarai mobil dengan hati-hati.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”(QS.Al Ahzab:72)

Selain lemah, manusia juga ternyata zalim dan amat bodoh. Kita harus menyadarinya sehingga kita tetap meminta petunjuk dari Allah dalam menjalani hidup kita. Jangan pernah lepas dari petunjuk, jangan penah lepas dari Al Quran dan Hadits karena kita membutuhkan, karena kita zalim dan bodoh.

Bagaimana pun kita ini adalah umat fakir, yaitu membutuhkan Allah dalam kehidupan kita. Sayang sekali banyak manusia yang lupa, mereka hanya mengandalkan pikiran dan tenaga saja dalam meraih sesuatu, padahal kita adalah mahkluq yang fakir, seperti firman Allah:

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.(QS. Faathir:15)

Kemuliaan Manusia

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS.Al Israa’:70)

  • Ditiupi ruh
    Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(QS.As Sajdah:9)
  • Diberi kistimewaan
    Manusia diberikan kelebihan yang sempurna seperti yang dijelaskan QS.Al Israa’:70.
  • Alam diperuntukan untuk manusia
    Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS.Al Jaatsiyah:12)

Dengan kelebihan-kelebihan ini, kita tidak ada lagi alasan untuk tidak percaya diri dalam menjalan berbagai tugas yang diberikan Allah SWT kepada kita. Tugas yang diberikan kepada kita, ternyata sudah dilengkapi dengan bekal yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Kita memiliki kelebihan dibanding makhluq lain, akan memotivasi kita untuk hidup lebih baik dari makhluq lain. Hidup yang tidak hanya mengejar keperluan perut dan, tetapi lebih dari itu. Sebab yang demikian, binatang pun bisa. Sementara dalam menjalani hidup kita masih memerlukan pertolongan Allah karena kita lemah, zalim, dan bodoh. Itulah umat Islam, umat pertengahan atau bisa dikatakan hidup dalam keseimbangan.

Jumat, Januari 04, 2008

Cinta Laki-Laki Biasa

Diposting oleh Soraya di 1/04/2008 10:26:00 AM 2 comment
MENJELANG hari H, Nania masih sukar mengungkapkan alasan kenapa dia mahu menikah dengan lelaki itu. Setelah melihat ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sedar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania.

Mereka ternyata sama herannya.

“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.

Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.

Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”. Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. “Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!” Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”
Nania terkesima “Kenapa?”

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.Parah. “Tapi kenapa?” Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”
Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Disampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah.
***

Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.”Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”

“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”
“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”.Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali inidilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!.Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!.Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!.Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”.Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.

Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
“Baru pembukaan satu.”.”Belum ada perubahan, Bu.”

“Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.”Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. “Masih pembukaan dua, Pak!”

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

“Bang?”.Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. “Dokter?” .”Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”
Mungkin?.Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?. Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun.
Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
“Pendarahan hebat.”.Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya.

Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.
Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.

Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.

Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
“Nania, bangun, Cinta?”

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.

Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, “Nania, bangun, Cinta?”

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.

Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.

Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya!”
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”
“Nania beruntung!”
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

~ Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa

Bingung mo posting apaan, jadi beginian deeh.. semoga menghibur!! ^^

Rabu, Desember 19, 2007

" Kembali - The Fikr "

Diposting oleh Soraya di 12/19/2007 07:08:00 PM 0 comment

Kutinggalkan dunia silamku
Untuk kembali kepada-Mu
Biar kutempuh duri dan ranjau
Demi Alloh kutempuh dengan tenang

Sekian lama aku tertipu
Godaan kerlipan fatamorgana
Karena mengumbar hawa nafsu
Aku pecundang dalam hidupku

Oh ... Tuhan pimpinlah setiap langkahku
Dalam perjalanan menuju-Mu
Ku tak bisa untuk apapun
Selain mengharapkan kasih-Mu

Reff *
Cintaku pada-Mu segalanya
Cintaku pada-Mu sepenuhnya
Cintaku pada-Mu cinta agung
Wahai tuhan yang pemberi rahmat
Ampunilah dosa-dosaku


Mo Download?? Tafadhol...!! ^^

Sekilas Tentang Kitab Riyadhus Shalihin

Diposting oleh Soraya di 12/19/2007 06:24:00 PM 1 comment

Sesungguhnya Alloh telah mengutus Rasul-Nya Muhammad dengan membawa petunjuk dan menurunkan kepadanya Al Quran pedoman hidup umat yang kekal sampai hari kiamat serta memberikan tafsir Al Quran dan yang semisalnya bersama Al Quran tersebut, sehingga Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan atau perbuatan adalah penjelas Al Quranadanapenunjukamakna-maknanya.

Demikian juga para sahabat Rasulullah telah menghafal, mempelajari dan menulis Al Quran dan As Sunnah sedangkan Alloh telah bertanggung jawab dalam menjaga kitab-Nya yang mulia dan menjadikan orang-orang yang menjaga dan memperhatikan As Sunnah An Nabawiyah sejak masa Rosululloh sampai sekarang hingga hari kiamat nanti.

Dengan taufik dari Alloh, Sunnah Rosululloh menjadi pusat perhatian para ulama di setiap masa dan tempat sehingga sempurnalah penjagaan, taqyiid dan penulisannya dalam kitab musnad, shihah, sunan dan mu’jam-mu’jam. Di antara para ulama yang memberikan perannya dalam menjaga dan menulis As Sunnah adalah Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawy ad-Dimasyqy (631-676 H) yang termasuk dalam jajaran ulama besar di abad ke-7 hijriah, beliau memiliki hasil karya yang banyak lagi bermanfaat dalam pembahasan yang beraneka ragam, karya-karya beliau telah mendapatkan pujian dan sanjungan serta perhatian yang besar dari para ulama sehingga mereka mempelajari, mengambil faedah dan menukil dari karya-karya beliau tersebut.

Di antara karya-karya beliau yang paling bermanfaat, terkenal dan tersebar di semua kalangan adalah kitab “Riyadhush Sholihin”, hal itu terjadi setelah izin Alloh, karena dua hal:

Pertama, isi kandungannya yang memuat bimbingan yang dapat menata dan menumbuhkan jiwa serta melahirkan satu kekuatan yang besar untuk berhias dengan ibadah yang menjadi tujuan diciptakannya jiwa tersebut dan mengantarnya kepada kebahagiaan dan kebaikan, karena kitab ini umum meliputi Targhib dan Tarhib dan kebutuhan seorang muslim dalam perkara agama, dunia dan akhiratnya. Kitab ini adalah kitab tarbiyah (pembinaan) yang baik yang menyentuh aneka ragam aspek kehidupan individual (pribadi) dan sosial kemasyarakatan dengan uslub (cara pemaparan) yang mudah lagi jelas yang dapat dipahami oleh orang khusus dan awam.

Dalam kitab ini penulis mengambil materinya dari kitab-kitab sunnah terpercaya seperti Shohih al-Bukhoriy, Muslim, Abu Daud, An Nasaa’i, At Tirmidziy, Ibnu Majah dan lain-lainnya. Beliau berjanji tidak memasukkan ke dalam bukunya ini kecuali hadits-hadits yang shohih dan beliau pun menunaikannya sehingga tidak didapatkan hadits yang lemah kecuali sedikit itu pun kemungkinan menurut pandangan dan ilmu beliau adalah shohih.

Kedua, tingginya kedudukan ilmiah yang dimiliki pengarang Riyadhush Sholihin ini di antara para ulama zamannya karena keluasan ilmu dan dalamnya pemahaman beliau terhadap sunnah Rosululloh.

Kitab Riyadhush Sholihin ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki kitab selainnya dari kitab-kitab Sunnah dan dia benar-benar bekal bagi penasihat, permata bagi yang menerima nasihat, pelita bagi orang yang mengambil petunjuk dan taman orang-orang sholih. Hal inilah yang menjadi sebab mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan ulama sehingga mereka memberikan syarah, komentar dan mengajarkannya di halaqoh-halaqoh mereka.

Akhirnya tidak dapat dipungkiri, kitab ini termasuk kitab yang paling banyak tersebar dan dimiliki sehingga kemasyhurannya telah melangit dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan orang-orang khusus dan awam, dan cukuplah (sebagai bukti) umumnya masjid menjadikannya sebagai bahan bacaan yang dibacakan kepada makmum setelah sholat atau sebelumnya.

Imam Nawawi memberikan keistimewaan dalam tertib dan pembuatan bab pembahasan, beliau membaginya menjadi beberapa kitab dan kitab-kitab ini dibagi menjadi beberapa bab lalu menjadikan kitab sebagai judul bagi hadits-hadits yang ada di dalam bab-bab yang banyak dari satu jenis dan menjadikan bab sebagai judul bagi sekelompok hadits yang menunjukkan satu permasalahan khusus.

Kitab ini terdiri dari 17 kitab, 265 bab dan 1897 hadits, beliau membuka mayoritas babnya dengan menyebut ayat-ayat dari Al Quran yang sesuai dengan pembahasan hadits yang ada lalu membuat tertib dan bab yang saling berhubungan sehingga kitab ini bisa mengalahkan selainnya dari kitab-kitab yang serupa dengannya. (Lihat Muqaddimah Syarhu Riyadhush Sholihin Karya: Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thoyaar Cetakan pertama tahun 1415/1995)

Demikianlah keistimewaan kitab ini sehingga sudah selayaknya mendapatkan perhatian dari setiap muslim yang ingin membina dirinya menuju ketakwaan.

Akhirnya, tak ada gading yang tak retak dan tidak ada seorang pun yang lolos dari kesalahan. Oleh karena itu tegur sapa dan nasihat senantiasa diharapkan dan mudah-mudahan semua ini menjadi amal sholih dan bekal yang baik menuju hari pembalasan.

[Sukoharjo, 22 Desember 2006 M, sumber: kumpulan makalah Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. jazaahullohu ahsanal jaza’]

Dapet dari sini nih...

Selasa, Desember 04, 2007

Orang-Orang Berpayung Hitam

Diposting oleh Soraya di 12/04/2007 11:03:00 AM 0 comment
Um.. bingung melihat perubahan di blog, jadi ikut ikutan iseng deh posting salah satu cerpen yg pernah w baca dulu.. Sad ending sii, cukup membuat hati trenyuh lah.. ( xixixi.. ). Yah.. bosen ngejob mulu, bingung posting apaan, jadi deh kaya begini.. semoga menghibur bagi yg membaca!

***************************************************************************************
SELAIN angin yang bertiup terasa aneh, udara kecut, dan kesepian yang bungkam, hanya terlihat orang-orang berpayung hitam. Wajah mereka muram, menunduk dan gelisah. Sebentar-sebentar mereka mengusap wajah seolah-olah sedang mengusap air mata. Sebentar-sebentar mereka berjalan lagi, bergegas, berputaran di antara tumpukan dan runtuhan.

Tak banyak di antara mereka yang bicara selain menikmati udara yang berbau perkabungan. Mereka adalah orang-orang yang datang mencari saudaranya setelah gempa membumiratakan bangunan-bangunan dan nyawa-nyawa di kota kecil itu. Ada yang menggali-gali runtuhan mencari-cari sesuatu, mungkin istri atau anak-anaknya. Ada yang menjerit-jerit histeris di depan sebuah gundukan berbentuk kuburan. Ada yang tersenyum-senyum kecil memperhatikan bekas rumah yang sudah hancur. Dan ada seseorang termangu di depan sebuah ayunan yang berbuai-buai lemah. Ayunan?

* * *

Suluh menjerit, dan kadang seolah tertawa, ketika ayunan itu kubuai begitu tinggi. Matanya berbinar-binar bercampur cemas. Tangannya berpegangan kuat pada dua tali ayunan. Setelah puas melihat ekspresi Suluh yang memesona itu, aku mulai memperlambat ayunan. Lalu ayunan pun berhenti. Kini giliran Suluh yang membuaikan ayunan. Begitu kami bergantian bermain. Dan terkadang kami naiki ayunan itu berdua. Tiang kayu yang diberi tali untuk menyangkutkan selembar papan berukuran 60 sentimeter kali 30 sentimeter, tidaklah terlalu sempit untuk ukuran bocah seperti kami. Kanak-kanak desa yang sedang riang dan girang.

Rumahku dan rumah Suluh bersebelahan. Tetangga. Aku bocah laki-laki, dan Suluh seorang gadis kecil. Setiap pulang sekolah, atau setiap waktu bermain tiba, kami tiba-tiba begitu saja telah berada di bawah ayunan tersebut. Ayunan yang dibuat ayah Suluh dan terletak di halaman rumahnya yang cukup luas dan asri. Ayunan yang sangat mengasyikkan bagi bocah kelas tiga SD seperti kami.

Kami tidak pernah berjanji. Tapi entah kenapa, setiap aku ingin bermain ayunan, Suluh seolah-olah sudah menunggu di sana. Selalu begitu.

"Kamu kok datangnya telat?" tanya Suluh agak cemberut ketika kulihat ia berusaha membuai ayunan sendiri dengan kesulitan. Kakinya yang tak sampai menggapai-gapai tanah agar bisa mendorong ayunan dan berbuai.

"Aku disuruh mama ke warung dulu. Beli kopi buat bapak," jawabku menjelaskan. "Kamu jelek kalau lagi sedih," gurauku menggoda kecemberutannya seraya berdiri di belakang Suluh dan mulai membuai ayunan.

Tiang ayunan itu bergoyang-goyang. Talinya berderit-derit. Wajah Suluh yang tadi cemberut tiba-tiba berubah riang. Ceria. Gembira. Ia pun menjerit-jerit bercampur tawa. Melihat paras wajah Suluh yang seperti itu, aku semakin bersemangat pula untuk membuainya. Sampai lelah. Sampai ayunan itu memelan. Dan kami bergantian lagi. Terus. Sampai senja jatuh menimpa.

Dan waktu pun berpulun-pulunan tak terasa. Hingga kami kelas enam SD, kami masih tetap bermain. Saling membuaikan ayunan seraya bercerita dan bercanda.

"Suluh, sampai kapan kita akan bermain ayunan seperti ini. Bukankah tidak lama lagi kita akan menjadi siswa SMP?" tanyaku sambil menghentikan ayunan. Suluh pun turun. Kami duduk berdampingan di masing-masing tiang ayunan tersebut. Melihat ke luar perkarangan rumah Suluh. Pemandangan pohon-pohon rimbun. Sketsa alam desa di sebuah kota kecil. Ada barisan bukit-bukit dan gunung di ujung tatapan kami.

"Sampai kapan saja!" jawab Suluh tegas. Seolah-olah ia sama sekali tidak menginginkan pertanyaanku. Sore itu kota kecil kami terasa cerah. Angin bertiup damai. Burung-burung saling mengejar ranting. Suaranya mempertegas keindahan alam yang betapa menggoda. Itu juga salah satu bagian yang aku dan Suluh suka.

"Kamu kok diam?" tanya Suluh tiba-tiba menyentak keheningan. "Kamu sudah bosan ya bermain ayunan?" lanjutnya lagi.

Aku hanya menggeleng. Terlalu sulit untuk membiarkan Suluh kecewa. Seperti sangat sulit membayangkan paras Suluh yang ceria, yang selama ini sangat kusukai, tiba-tiba berubah menjadi sedih. Aku tidak ingin kehilangan semua itu. Tidak!

"Aku takut menjadi dewasa!" jawabku kemudian seadanya.

"Maksud kamu?" Suluh bertanya bingung.

"Orang dewasa tidak boleh lagi main ayunan."

"Kalau seandainya kita tidak peduli dengan hal itu?"

"Kita akan ditertawakan orang-orang."

"Lo kok ditertawakan?"

Sebelum aku sempat menjawab, ayah dan ibu Suluh sudah berdiri di depan pintu, dan tidak lama kemudian suara mamaku juga terdengar memanggil-manggil. Percakapan kami pun terhenti. Aku harus pulang. Suluh harus pulang. Kami berpisah. Mungkin dalam hati sama-sama berjanji, besok akan bertemu lagi, di ayunan itu, bergantian saling membuaikan

Dan kami menepati janji yang tumbuh dalam hati itu. Kami kembali bermain berdua, bertemu di ayunan, saling membuaikan, bercerita, menjelang hari senja. Adakah ayunan memang sebuah permainan yang mengasyikkan atau pertemuan-pertemuanlah yang kini menjadi kebutuhan bagi kami?

Ya, kebutuhanlah yang menuntut kami sampai ke bangku SMP. Meski kami tidak sesering dulu lagi bertemu di ayunan itu, ada waktu-waktu tertentu yang kami sepakati untuk bisa bersama. Kadang kami tetap bermain ayunan. Kadang hanya sekedar bercerita.

"Bapak menyuruhku sekolah di Jakarta. Tinggal bersama tante, adik bapak yang paling kecil," ucapku perlahan. Kuperhatikan wajah Suluh yang beranjak remaja. Sebuah garis kecantikan yang mulai tumbuh. Meresap. Pelan-pelan seolah memancarkan cahaya yang tak mampu kuberi makna. Tapi mendengar ucapanku, tiba-tiba cahaya itu seakan memudar seketika. Mendadak murung. Apakah ucapanku tadi yang sudah merampasnya?

"Kamu mau meninggalkanku?" Suluh bertanya setengah bergumam. Ada lenguh giris dari nada suaranya. Dan tatapannya tiba-tiba seakan menghujamku.

"Ini kehendak bapak," jawabku berusaha mengelak.

"Tapi kamu setuju kan?" balas Suluh terus mendesak.

Aku tak bisa menjawab. Satu sisi aku tidak ingin berpisah dengan Suluh. Di sisi yang lain bapak menggambarkan tentang masa depan yang indah buatku bila bersekolah di Jakarta. Sebuah persimpangan yang rawan. Pilihan atas dua yang sama menggoda. Aku ada di antaranya. Berdiam bagai sebuah tonggak rapuh yang tak sanggup berbuat apa-apa. Rapuh karena usiaku yang belum matang untuk menentukan pilihan.

"Mungkin itu yang dulu pernah kamu katakan, kamu takut menjadi dewasa. Dan sekarang saat itu telah tiba," ucap Suluh dalam suara yang bergetar, barangkali karena rasa haru yang coba ditahannya. “Aku tidak mungkin menghalangi kepergianmu. Tidak mungkin! Hanya aku berharap, suatu saat nanti kita akan kembali bertemu di ayunan ini. Bertemu lagi. Tapi tak perlu berjanji!” lanjut Suluh mengulang-ulang kalimatnya.

Lalu Suluh berlari meninggalkanku. Masuk ke rumahnya. Dan aku sempat melihat air matanya menetes. Kutatap ayunan kayu itu. Dua tiang yang selalu menyatukan kami. Selembar papan tempat kami membagi kegembiraan. Diam-diam ada catatan panjang tentang kehidupan kami yang telah disimpannya. Masa kanak-kanak. Sebuah masa di mana hidup terasa sangat indah. Kami menabur keindahan tersebut di atas ayunan. Kini aku sendiri di depan ayunan itu. Dan Suluh telah berlari ke dalam rumah sambil menangis. Tapi aku harus pergi. Karena kata bapak hidup perlu masa depan.

* * *
Gegas Jakarta ternyata tak membuatku lupa pada Suluh begitu saja. Demikian juga kesibukanku sebagai seorang siswa SMA yang kemudian kuliah di fakultas teknik. Tak ada yang mampu menahan. Kami tetap menjalin komunikasi. Bahkan terasa makin dekat, akrab, dalam rindu yang coba melawan jarak di depan kami.

Seperti di atas ayunan dulu, kami bergantian untuk memulai komunikasi. Bila Suluh tak meneleponku, akulah yang mengambil inisiatif untuk memulai. Kami masih saja seolah-olah terus digerakkan sesuatu yang tak pernah kami janjikan. Itu berlangsung selama tujuh tahun.

Dalam tujuh tahun tersebut hanya dua kali aku pulang berlibur. Menuntaskan sesuatu yang tiba-tiba tak kumengerti. Berdegup. Mengguncang dadaku di saat-saat sendiri. Dan semua itu kuungkapkan pada Suluh. Lepas sejujurnya.

"Mungkin yang kurasa lebih kuat daripada apa yang kamu rasa," kata Suluh di sebuah taman kota tempat kami bertemu menanggapi apa yang kuungkapkan. "Hanya saja, entah kenapa, aku begitu yakin bahwa kita akan kembali bertemu di ayunan itu. Kita memang tak pernah berjanji. Tapi siapakah di antara kita yang mampu mendustai diri?"

Suluh sudah menjadi gadis yang sempurna kini. Cahaya yang dulu menggetarkan di parasnya semakin menguat dan seakan-akan menyedotku untuk tidak pernah berpisah lagi dengannya. Rambut panjangnya. Bibir rekahnya. Mata bulatnya. Dan alisnya. Ah, Suluh. Aku akan pulang menjemputmu bila waktunya tiba.

"Ketika berangkat dulu, aku belum tahu apa makna pilihan. Kini waktu membuatku mengerti. Suluh, bersediakah kamu kupilih menjadi teman hidupku?"

Suluh tertunduk.

"Tahun ini kuliahku selesai. Sebuah perusahaan telah memberikan gambaran untuk menampungku bekerja di sana. Aku akan segera menjemputmu, Suluh. Kita menikah. Tinggal di Jakarta. Di halaman rumah akan kita buat sebuah ayunan tempat bermain setiap senja. Kamu bersedia, Suluh?"

Suluh mengangguk.

* * *
Selain angin yang bertiup terasa aneh, udara kecut, dan kesepian yang bungkam, hanya terlihat orang-orang berpayung hitam. Wajah mereka muram, menunduk dan gelisah. Sebentar-sebentar mereka mengusap wajah seolah-olah sedang mengusap air mata. Sebentar-sebentar mereka berjalan lagi, bergegas, berputaran di antara tumpukan dan runtuhan.

Tak banyak di antara mereka yang bicara selain menikmati udara yang berbau perkabungan. Mereka adalah orang-orang yang datang mencari saudaranya setelah gempa membumiratakan bangunan-bangunan dan nyawa-nyawa di kota kecil itu. Ada yang menggali-gali runtuhan mencari-cari sesuatu, mungkin istri atau anak-anaknya. Ada yang menjerit-jerit histeris di depan sebuah gundukan berbentuk kuburan. Ada yang tersenyum-senyum kecil memperhatikan bekas rumah yang sudah hancur. Dan ada seseorang termangu di depan sebuah ayunan yang berbuai-buai lemah.

"Di mana kamu , Suluh?" gumamnya, lalu membaur bersama orang-orang berpayung hitam yang terus saja mengitari runtuhan demi runtuhan di desa itu.

Payakumbuh, Maret 2007

hiks..hiks.. menyedihkan sekali kisah ini...
 

My Story Life Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting